Virus ini lebih ganas dari virus apapun, biasanya menyerang pada orang yang kurang memiliki kekebalan jiwa alias lemah mental. Orang yang ambisius kalau over dosis bisa terserang ini juga. Biasanya malas akan berdampak pada kegiatan seharian seperti mandi (jadi kemana mana bawa anduk tapi tidak mandi-mandi) malas makan, malas kerja bahkan malas bangun tidur.Orang yang terlalu idealis juga sangat rentan terkena virus ini, apalagi kalau orangnya hanya bisa memberikan ide tapi tindakannya nol pasti sangat mudah sekali. Yang diserang virus ini biasanya pikirannya dulu, pikiran diacak abis-abisan, akhirnya emosi juga kacau, kalau dah gitu tubuh pun terasa sangat berat untuk melakukan sesuatu. Nah kalau sudah begini virus akan menyerang abis- abisan.
Langkah langkah untuk membunuh virus malas yang pertama, terima dulu malasnya… he he …ya iya harus nerima artinya sadar bahwa kita sedang terserang virus malas. Pikirkan file file mana yang sudah diserang…. malas mandi, malas makan, malas kerja dan malas lainnya.Kemudian setelah sadar carilah suatu kegiatan yang dapat membangkitkan suasana boleh nyetel musik, nyetel klenengan atau campur sari… sehingga suasana berubah… nah kalau udah berubah cepet-cepet melakukan sesuatu yang agak berat misalnya ambil buku atau menyentuh tugas (disentuh dulu saja) nah… nanti kalau sudah itu biasanya akan muncul semangat lebih besar lagi … lakukan kegiatan yang lebih berat lagi demikian seterusnya sampai kita motivated, kalau dah begini jangan sekali-kali mau terserang virus malas.
Caranya:
Jangan banyak berpikir “just do it”
Jadi orang biasa saja tidak perlu luar biasa (apalagi biasa di luar sana)
Ambil kegiatan kegiatan yang dapat menyenangkan hati kita…. syukur-syukur kegiatan itu bernilai pahala seperti dzikir, sholat…
kumpul dengan orang orang yang motivated biar nanti kita akan tertular…
Indonesia tanpa pacaran
Selasa, 01 Agustus 2017
Menanti pendamping hati
MENANTI SANG PENDAMPING HATI
Hampa diri, temani sepi, saat diresapi,
Cinta menumpuk rasa,
Mengharap seorang kekasih,
Menempati ruang kosong di hati, memberi butiran mengalir ke dalam sanubari.
Engkaukah Selama Ini Yang Kucari?
Dalam mimpi selalu datang menghibur,
Memberi senyuman manis,
Menyapa dalam hangatnya suasana, rasa sepi pun seakan sirna dari hati.
Engkaukah Selama Ini Yang Kucari?
Begitu aku merindukan,
Jejak - jejak cinta saling memberi, saling menerima,
Harapan ini begitu besar.
Kesetiaan yang kujalani,
Ketulusan yang kuberi,
Ku lakukan hanya untuk dirimu,
Untuk membuatmu bahagia, disampingku.
Untukmu bidadari surgaku.
Hampa diri, temani sepi, saat diresapi,
Cinta menumpuk rasa,
Mengharap seorang kekasih,
Menempati ruang kosong di hati, memberi butiran mengalir ke dalam sanubari.
Engkaukah Selama Ini Yang Kucari?
Dalam mimpi selalu datang menghibur,
Memberi senyuman manis,
Menyapa dalam hangatnya suasana, rasa sepi pun seakan sirna dari hati.
Engkaukah Selama Ini Yang Kucari?
Begitu aku merindukan,
Jejak - jejak cinta saling memberi, saling menerima,
Harapan ini begitu besar.
Kesetiaan yang kujalani,
Ketulusan yang kuberi,
Ku lakukan hanya untuk dirimu,
Untuk membuatmu bahagia, disampingku.
Untukmu bidadari surgaku.
Pacaran haram lho!!!
PACARAN ITU HARAM LHO
Sebuah fitnah besar menimpa pemuda pemudi pada zaman sekarang. Mereka terbiasa melakukan perbuatan yang dianggap wajar padahal termasuk maksiat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Perbuatan tersebut adalah “pacaran”, yaitu hubungan pranikah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Biasanya hal ini dilakukan oleh sesama teman sekelas atau sesama rekan kerja atau yang lainnya. Sangat disayangkan, perbuatan keji ini telah menjamur di masyarakat kita.
Pacaran dari Sudut Pandang Islam, pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan - larangan Allah subhanahu wa ta’ala. Fitnah ini bermula dari pandang memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hati—sebab itu, ada istilah “dari mata turun ke hati”— kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara kirim SMS atau surat cinta, telepon, atau yang lainnya.
“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhari: 6243)
“Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. alBukhari: 1862, Muslim: 1338)
Adakah Pacaran Islami?
Ada lagi pemuda pemudi aktivis organisasi Islam—yang katanya punya semangat terhadap Islam—disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaran - pacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegang - pegangan. Masing - masing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Allah serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah katanya !
Ketahuilah, pacaran yang diembel - embeli Islam ala mereka tak ubahnya omong kosong belaka. Itu hanyalah makar iblis untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Adakah mereka dapat menjaga pandangan mata dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau lakilaki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan?! Camkanlah firman Allah
“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka”…. (Q.S. anNur [24]: 3031)
Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi laki-laki? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhari: 5096)
Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu
Para pemuda yang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (H.R. al-Bukhari: 5066)
Sebuah fitnah besar menimpa pemuda pemudi pada zaman sekarang. Mereka terbiasa melakukan perbuatan yang dianggap wajar padahal termasuk maksiat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Perbuatan tersebut adalah “pacaran”, yaitu hubungan pranikah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Biasanya hal ini dilakukan oleh sesama teman sekelas atau sesama rekan kerja atau yang lainnya. Sangat disayangkan, perbuatan keji ini telah menjamur di masyarakat kita.
Pacaran dari Sudut Pandang Islam, pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan - larangan Allah subhanahu wa ta’ala. Fitnah ini bermula dari pandang memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hati—sebab itu, ada istilah “dari mata turun ke hati”— kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara kirim SMS atau surat cinta, telepon, atau yang lainnya.
“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhari: 6243)
“Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. alBukhari: 1862, Muslim: 1338)
Adakah Pacaran Islami?
Ada lagi pemuda pemudi aktivis organisasi Islam—yang katanya punya semangat terhadap Islam—disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaran - pacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegang - pegangan. Masing - masing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Allah serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah katanya !
Ketahuilah, pacaran yang diembel - embeli Islam ala mereka tak ubahnya omong kosong belaka. Itu hanyalah makar iblis untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Adakah mereka dapat menjaga pandangan mata dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau lakilaki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan?! Camkanlah firman Allah
“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka”…. (Q.S. anNur [24]: 3031)
Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi laki-laki? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhari: 5096)
Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu
Para pemuda yang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (H.R. al-Bukhari: 5066)
Senin, 31 Juli 2017
EROSI JIWA
Saat semua mulai lenyap
Ambisi manusia pun terlahap
Tak ada waktu untuk bersiap
Untuk mereka yang masih terlelap
Doa orang-orang baik
Usaha yang terbaik
Atas segala urusan pelik
Terdapatlah suatu pertanyaan
Iman manakah yang kau pertaruhkan?
Gemetar sembari memikirkan
Akankah ini suatu cobaan?
Emosi bercampur kegelisahan mendalam
Mata hati tertutup bagai malam yang kelam
Paksaan jiwa tertolak hati yang suram
Apalah arti hidup jika diri ini tenggelam
Tenggelam cahaya hati dalam gelapnya malam
Luapan kekecewaan tak akan membantu
Imbasnya hanya membuat hati semakin membatu
Membatu karena berkumpul menjadi satu?
Atau malah terpencar menjadi debu?
Erosi dalam jiwa rupanya terlalu parah
Nestapa hidup yang semakin tak terarah
Amarah yang terus akan berbuah
Menjadi suatu hal yang selalu salah
Tempat berdiam selanjutnya bukanlah di sini
Untuk sebuah alasan bodoh mereka berhenti
Jalan panjang membentang tak mereka lewati
Untuk sebuah alasan bodoh pula mereka mencaci
Hilang akal karena berpenyakit hati
Dosa-dosa yang teramat besar
Emisi kehidupan dari jiwa yang kufar
Lima waktu yang telah lama tertidur
Apalah arti kehidupan yang berjalan mundur?
Penuh sesak dengan pikiran yang selalu kufur
Atau jika pikiran ingin terhibur
Nafsu setan dipastikan telah membaur
Saat manusia menjadi durhaka
Ekspresi mereka membabi buta
Menghalalkan segala cara
Berdusta untuk menggapai asa
Ilmu hanya terpakai untuk berbuat dosa
Lalai sudah hidupnya tak terkira
Akankah mereka mati sembari memeluk dunia?
Nama mereka mungkin telah tercatat dalam neraka.
Ambisi manusia pun terlahap
Tak ada waktu untuk bersiap
Untuk mereka yang masih terlelap
Doa orang-orang baik
Usaha yang terbaik
Atas segala urusan pelik
Terdapatlah suatu pertanyaan
Iman manakah yang kau pertaruhkan?
Gemetar sembari memikirkan
Akankah ini suatu cobaan?
Emosi bercampur kegelisahan mendalam
Mata hati tertutup bagai malam yang kelam
Paksaan jiwa tertolak hati yang suram
Apalah arti hidup jika diri ini tenggelam
Tenggelam cahaya hati dalam gelapnya malam
Luapan kekecewaan tak akan membantu
Imbasnya hanya membuat hati semakin membatu
Membatu karena berkumpul menjadi satu?
Atau malah terpencar menjadi debu?
Erosi dalam jiwa rupanya terlalu parah
Nestapa hidup yang semakin tak terarah
Amarah yang terus akan berbuah
Menjadi suatu hal yang selalu salah
Tempat berdiam selanjutnya bukanlah di sini
Untuk sebuah alasan bodoh mereka berhenti
Jalan panjang membentang tak mereka lewati
Untuk sebuah alasan bodoh pula mereka mencaci
Hilang akal karena berpenyakit hati
Dosa-dosa yang teramat besar
Emisi kehidupan dari jiwa yang kufar
Lima waktu yang telah lama tertidur
Apalah arti kehidupan yang berjalan mundur?
Penuh sesak dengan pikiran yang selalu kufur
Atau jika pikiran ingin terhibur
Nafsu setan dipastikan telah membaur
Saat manusia menjadi durhaka
Ekspresi mereka membabi buta
Menghalalkan segala cara
Berdusta untuk menggapai asa
Ilmu hanya terpakai untuk berbuat dosa
Lalai sudah hidupnya tak terkira
Akankah mereka mati sembari memeluk dunia?
Nama mereka mungkin telah tercatat dalam neraka.
Minggu, 30 Juli 2017
Kapan aku menikah
MENIKAH, BUKAN KOMPETISI.
Aku tidak pernah melihat menikah sebagai sebuah kompetisi. Kau tahu artinya? Pertama, aku tidak akan menikah karena orang-orang sudah banyak yang menikah. Teman-temanku menikah, junior-juniorku di sekolah atau di kampus menikah, atau karena adikku juga ingin menikah. Aku akan menikah karena aku tahu, pada suatu titik, aku tak akan mampu sendiri menjaga diri. Dan karena Allah mengetahui itu, Dia sudah aturkan cara sedemikian rupa untuk mempertemukan aku dengan jodohku. Kedua, aku tidak akan bersaing dengan siapapun, mengenai hal apapun. Termasuk perkara ini. Siapa yang menikah lebih dulu. Siapa yang calon pasangannya lebih 'WAH'. Siapa yang pernikahannya lebih mewah. Siapa yang kemudian punya anak lebih dulu. Siapa yang rezekinya paling banyak setelah menikah. Apalagi siapa yang tampak paling bahagia di media sosial. Tidak ada. Satu-satunya sainganku adalah diriku sendiri. Aku hari ini harus lebih baik dari aku kemarin. Aku besok harus lebih baik dari aku hari ini. Semakin bersyukur, semakin bahagia. Termasuk tentang jodoh, kutekankan bahwa aku.. tidak akan pernah bersaing dengan siapa-siapa. Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dengan atau tanpa persaingan, setiap manusia tetap saja akan bertemu dengan takdir pasangan hidupnya. Aku tidak sedang berkompetisi tentang urusan pernikahan. Aku hanya punya satu ukuran kebahagiaan, yaitu bersyukur sebanyak-banyaknya. Dan aku hanya punya satu ukuran perjuangan, yaitu berdoa sekuat-kuatnya, serta segenap daya mewujudkannya.
Aku tidak pernah melihat menikah sebagai sebuah kompetisi. Kau tahu artinya? Pertama, aku tidak akan menikah karena orang-orang sudah banyak yang menikah. Teman-temanku menikah, junior-juniorku di sekolah atau di kampus menikah, atau karena adikku juga ingin menikah. Aku akan menikah karena aku tahu, pada suatu titik, aku tak akan mampu sendiri menjaga diri. Dan karena Allah mengetahui itu, Dia sudah aturkan cara sedemikian rupa untuk mempertemukan aku dengan jodohku. Kedua, aku tidak akan bersaing dengan siapapun, mengenai hal apapun. Termasuk perkara ini. Siapa yang menikah lebih dulu. Siapa yang calon pasangannya lebih 'WAH'. Siapa yang pernikahannya lebih mewah. Siapa yang kemudian punya anak lebih dulu. Siapa yang rezekinya paling banyak setelah menikah. Apalagi siapa yang tampak paling bahagia di media sosial. Tidak ada. Satu-satunya sainganku adalah diriku sendiri. Aku hari ini harus lebih baik dari aku kemarin. Aku besok harus lebih baik dari aku hari ini. Semakin bersyukur, semakin bahagia. Termasuk tentang jodoh, kutekankan bahwa aku.. tidak akan pernah bersaing dengan siapa-siapa. Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dengan atau tanpa persaingan, setiap manusia tetap saja akan bertemu dengan takdir pasangan hidupnya. Aku tidak sedang berkompetisi tentang urusan pernikahan. Aku hanya punya satu ukuran kebahagiaan, yaitu bersyukur sebanyak-banyaknya. Dan aku hanya punya satu ukuran perjuangan, yaitu berdoa sekuat-kuatnya, serta segenap daya mewujudkannya.
Langganan:
Postingan (Atom)