Senin, 31 Juli 2017

EROSI JIWA

Saat semua mulai lenyap
Ambisi manusia pun terlahap
Tak ada waktu untuk bersiap
Untuk mereka yang masih terlelap

Doa orang-orang baik
Usaha yang terbaik
Atas segala urusan pelik

Terdapatlah suatu pertanyaan
Iman manakah yang kau pertaruhkan?
Gemetar sembari memikirkan
Akankah ini suatu cobaan?

Emosi bercampur kegelisahan mendalam
Mata hati tertutup bagai malam yang kelam
Paksaan jiwa tertolak hati yang suram
Apalah arti hidup jika diri ini tenggelam
Tenggelam cahaya hati dalam gelapnya malam

Luapan kekecewaan tak akan membantu
Imbasnya hanya membuat hati semakin membatu
Membatu karena berkumpul menjadi satu?
Atau malah terpencar menjadi debu?

Erosi dalam jiwa rupanya terlalu parah
Nestapa hidup yang semakin tak terarah
Amarah yang terus akan berbuah
Menjadi suatu hal yang selalu salah

Tempat berdiam selanjutnya bukanlah di sini
Untuk sebuah alasan bodoh mereka berhenti
Jalan panjang membentang tak mereka lewati
Untuk sebuah alasan bodoh pula mereka mencaci
Hilang akal karena berpenyakit hati

Dosa-dosa yang teramat besar
Emisi kehidupan dari jiwa yang kufar
Lima waktu yang telah lama tertidur
Apalah arti kehidupan yang berjalan mundur?
Penuh sesak dengan pikiran yang selalu kufur
Atau jika pikiran ingin terhibur
Nafsu setan dipastikan telah membaur

Saat manusia menjadi durhaka
Ekspresi mereka membabi buta
Menghalalkan segala cara
Berdusta untuk menggapai asa
Ilmu hanya terpakai untuk berbuat dosa
Lalai sudah hidupnya tak terkira
Akankah mereka mati sembari memeluk dunia?
Nama mereka mungkin telah tercatat dalam neraka.

Minggu, 30 Juli 2017

Kapan aku menikah

MENIKAH, BUKAN KOMPETISI.
Aku tidak pernah melihat menikah sebagai sebuah kompetisi. Kau tahu artinya? Pertama, aku tidak akan menikah karena orang-orang sudah banyak yang menikah. Teman-temanku menikah, junior-juniorku di sekolah atau di kampus menikah, atau karena adikku juga ingin menikah. Aku akan menikah karena aku tahu, pada suatu titik, aku tak akan mampu sendiri menjaga diri. Dan karena Allah mengetahui itu, Dia sudah aturkan cara sedemikian rupa untuk mempertemukan aku dengan jodohku. Kedua, aku tidak akan bersaing dengan siapapun, mengenai hal apapun. Termasuk perkara ini. Siapa yang menikah lebih dulu. Siapa yang calon pasangannya lebih 'WAH'. Siapa yang pernikahannya lebih mewah. Siapa yang kemudian punya anak lebih dulu. Siapa yang rezekinya paling banyak setelah menikah. Apalagi siapa yang tampak paling bahagia di media sosial. Tidak ada. Satu-satunya sainganku adalah diriku sendiri. Aku hari ini harus lebih baik dari aku kemarin. Aku besok harus lebih baik dari aku hari ini. Semakin bersyukur, semakin bahagia. Termasuk tentang jodoh, kutekankan bahwa aku.. tidak akan pernah bersaing dengan siapa-siapa. Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dengan atau tanpa persaingan, setiap manusia tetap saja akan bertemu dengan takdir pasangan hidupnya. Aku tidak sedang berkompetisi tentang urusan pernikahan. Aku hanya punya satu ukuran kebahagiaan, yaitu bersyukur sebanyak-banyaknya. Dan aku hanya punya satu ukuran perjuangan, yaitu berdoa sekuat-kuatnya, serta segenap daya mewujudkannya.